LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

POSTULAT KOCH

Oleh :
Elysa Fitri ( A34080001)

Dosen:
Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti
Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada dasarnya, tidak ada satupun tumbuhan di alam ini yang bebas dari gangguan penyakit. Gejala penyakit pada tumbuhan dapat berupa bercak, hawar (seperti tersiram air panas), gosong, mengeriting, bengkak, bahkan beberapa penyakit dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan, misalnya busuk akar, busuk pangkal batang, rebah kecambah, dan layu.
Diagnosis penyakit tumbuhan ada yang mudah, karena gejalanya khas, tetapi lebih banyak yang sulit ditentukan penyebabnya karena gejalanya banyak yang mirip satu sama lain. Apalagi penyebabnya kebanyakan adalah adanya organisme yang sukar dilihat dengan mata telanjang.
Hampir semua tanaman pertanian di Indonesia terkena penyakit yang disebabkan oleh patogen, baik itu tanaman pangan seperti padi yang diserang oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. ataupun tanaman hortikultura seperti kacang tanah yang diserang oleh cendawan Sclerotium rolfsii yang menyebabkan penyakit busuk batang, kubis-kubisan oleh bakteri Erwinia carotovora, cabai oleh cendawan Colletotrichum sp, dan lain-lain.
Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman telah dirasakan oleh bangsa Indonesia, terlebih oleh para petani. Dapat dibuktikan dari menurunnya produktivitas pangan dan tanaman hortikultura di Indonesia. Hal ini tentu saja tidak dapat dibiarkan. Dibutuhkan suatu tindakan pengendalian yang efektif yang dapat menjadi solusi bagi perbaikan dan perkembangan pertanian Indonesia.

1.2 Tujuan
Dalam pembuatan disease note book ini terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, tujuan tersebut yaitu untuk mengetahui penyakit-penyakit yang menyerang berbagai tanaman, baik itu tanaman pangan seperti pada maupun tanaman hortikultura seperti kubis, cabai, dan kacang tanah. Selain itu pembuatan disease note book ini juga bertujuan untuk mengetahui patogen yang menyebabkan penyakit pada berbagai jenis tanaman, mengetahui gejala dari berbagai penyakit pada tanaman, memahami siklus penyakit dari patogen penyebab penyakit pada tanaman, dan agar mahasiswa mengetahui teknik pengendalian yang tepat untuk mencegah terjadinya atau berkembangnya penyakit-penyakit pada tanaman.

BAB 2
ISI

2.1. Penyakit Busuk Lunak
2.1.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis-kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis.
Bakteri busuk lunak merupakan parasit lemah yang dapat melakukan penetrasi pada inangnya hanya melalui luka misalnya pada bercak yang diinfeksi oleh patogen lainnya, luka karena gigitan serangga, atau luka karena alat pertanian yang digunakan untuk memanen kubis. Infeksi bakteri lebih banyak dijumpai pada tempat penyimpanan atau pada waktu pengangkutan (pasca panen) dari pada di lapangan.
2.1.b. Gejala

Gambar 1 Gambar 2
Kubis yang terserang E. carotovora Erwinia carotovora
(www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm)

Kubis yang terkena penyakit busuk basah menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada daun terdapat bercak kebasahan yang bentuknya tidak teratur. Bercak tersebut kemudian melebar, melekuk, dan menyebar ke seluruh buah, berwarna cokelat tua kehitaman. Buah yang terserang menjadi rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Selama masa panen, pembusukan biasanya dimulai pada batang dan diikuti oleh buah. Jika kelembaban lingkungan tinggi, bercak tampak basah dan ada butir – butir cairan. Infeksi bakteri sekunder mengakibatkan tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas. Bau tersebut merupakan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi karbohidrat kubis (www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm).
2.1.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Suhu optimal untuk perkembangan bakteri 27°C. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya. Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 – 37°C dengan suhu optimum berkisar 22°C (Agrios, 1997).
2.1.d. Siklus Hidup Penyakit
Sel bakteri berbentuk batang, dengan ukuran (1,5 – 2,0) x (0,6 ¬0,9) mikron, umumnya membentuk rangkaian sel-sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri (flagela peritrichous). Bakteri bersifat Gram negatif.
Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri (Sinaga, 2006).
Penyebaran melalui tanah, sisa-sisa tanaman di lapangan dan alat pertanian. Bakteri tersebar di lapangan oleh percikan air atau kontak dengan alat-alat seperti cangkul atau pisau. Jika pisau tercemar digunakan untuk memanen kubis, tanaman yang disimpan juga membusuk dengan cepat (Agrios, 1997).
Bakteri busuk lunak mempunyai daerah sebaran yang luas hampir di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Tanaman inang bakteri busuk lunak diantaranya kentang, wortel, seledri, tomat, selada, kailan, caisin, kubis bunga, petsai, sawi hijau, bawang merah, bawang bombai, bawang daun, bawang putih, semangka, tembakau dan ubi-ubian.
2.1.e. Pengendalian
Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya atau dengan menjaga kebersihan kebun dari sisa –sisa tanaman yang sakit. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Menjaga kelembaban tidak terlalu tinggi dengan cara menanam tanaman kubis dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, hasil panen dicuci dengan air yang mengandung klorin atau borax 7,5%, dan disimpan di gudang yang mempunyai ventilasi cukup. Dapat juga dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non-sayur. Selain itu system drainase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Jika memungkinkan sebisa mungkin menghindari mencuci buah dengan air sembarang sebelum disterilisai dengan klorin. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan (www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm).

2.2. Penyakit Antraknosa
2.2.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit antraknosa ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides, dengan bentuk sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Antarknosa pada cabai besar tersebar disemua daerah, penanaman cabai diseluruh dunia, meskipun dibanyak negara penyakit ini dianggap sebagai dua penyakit, yang masing – masing disebabkan oleh satu jamur.

2.2.b. Gejala

Gambar 3
Cabai terkena penyakit antraknosa (www. tanindo.com)

Gambar 4 Gambar 5
Aservulus dan seta pada C. gloeosporioides Colletotrichum gloeosporioides
(http://web.ipb.ac.id)

Gejala serangan penyakit antraknosa pada buah ditandai dengan adanya bercak/bintik-bintik coklat kemerahan atau coklat hitam berbentuk bulat pada permukaan kulit buah seperti terkena sengatan matahari yang diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Pada bagian tengah busuk terdapat titik‐titik kecil yang merupakan massa konidium yang terdiri atas aservuli, konidium, konidiofor dan seta dan lama-lama menjadi cekung, mengeras dan kering.
Jika buah yang masih muda terinfeksi, maka akan lebih cepat gugur. Infeksi lebih cepat berkembang pada buah yang tua, dan berlanjut ke pascapanen. Penyakit ini tidak hanya terjadi di lapangan, terkadang terjadi adang di kebun, namun tidak terlalu banyak. Tapi begitu sudah dipanen dan disimpan, serangan penyakit semakin banyak (www. tanindo.com).
Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman (Agrios, 1997).
Cendawan ini dapat juga menyerang batang atau ranting. Gejala awal yang terjadi yaitu ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik-bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok (www. tanindo.com).
2.2.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah. Cendawan penyebab penyakit antraknosa ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32oC. Cendawan ini menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan (Agrios, 1997).
Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. .
2.2.d. Siklus Hidup Penyakit
Daur hidup._ Jamur pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah – buah. Jamur hanya sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa – sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Aservulus dangkal, seta bersekat 1–2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing (Sinaga, 2006).
Umumnya, spora cendawan patek disebarkan oleh angin. Bisa juga melalui peralatan pertanian, bahkan manusia. Cendawan dapat menginfeksi biji dan bertahan dalam sisa-sisa tanaman sakit.
Tanaman inang lain lain yang diserang oleh cendawan ini diantaranya yaitu bawang-bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp (ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda (www. tanindo.com).
2.2.e. Pengendalian
Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. Penyiangan/sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat. Tidak menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa/patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi. Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan atau dengan penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati. Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium amorphospongarium, Athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut.
Jika diperlukan penyakit dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran. Penyiraman fungisida tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. Bermacam – macam fungisida dapat dipakai untuk keperluan ini, antara lain Antracol (propineb), Velimek (maneb dan zineb), Delsene MX-200 (karbendazim dan mankozeb), Benlate dan Manzate (benomyl dan maneb), Dithane M-45 (mankozeb), Dithane Z-78 (Zineb), dan Fungisida tembaga (www. tanindo.com).

2.3. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)
2.3.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar hampir diseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada musim hujan biasanya berkembang lebih baik. Kerugian hasil yang disebabkan oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat keparahan 20% sebulan sebelum panen, penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di atas keparahan itu, hasil padi turun 4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar 10%. Kerusakan terberat terjadi apabila penyakit menyerang tanaman muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek, dapat menyebabkan tanaman mati (Khaeruni, 2001).

2.3.b. Gejala

Gambar 6
Penyakit hawar daun bakteri pada padi
(www.shigen.nig.ac.jp)

Gambar 7
Xanthomonas oryzae pv. Oryzae
(www.shigen.nig.ac.jp)

Gejala awal ditandai dengan bercak memanjang dengan tepi bergelombang dari ujung daun yang berkembang sepanjang tepi daun. Gejala kemudian berkembang menjadi hawar, layu (kresek), dan warna daun berubah menjadi kuning pucat Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight). Gejala diawali dengan bercak kelabu (water soaked) umumnya di bagian pinggir daun. Pada varietas yang rentan bercak berkembang terus, dan akhirnya membentuk hawar. Pada keadaan yang parah, pertanaman terlihat kering seperti terbakar (www.shigen.nig.ac.jp).
Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur <30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh).
Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan. Penyakit ini akan menimbulkan gejala yang timbul 1-2 minggu setelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun yang sakit akan berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaian daun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna kuning. Warna daun yang kering tiu akan berubah menjadi kening jerami sampai coklat muda. Gejala dapat juga meluas sampai upih daun (Khaeruni, 2001).
Gejala lain adalah kresek, dimana gejala ini terjadi pada tanaman padi berumur 2-6 minggu. Gejala penyakit ini mudah dibedakan dari gejala karena serangan penggerek, karena pada serangan penggerek gejala lebih dulu timbul pada daun yang lebih muda, sedang pada hawar daun bakteri serangan akan tampak pada daun yang lebih tua. Mungkin bakteri hanya menyerang beberapa daun, tetapi dapat juga berkembang terus sehingga tanaman mati. Tingkatan terakhir dari penyakit ini adalah membusuknya tanaman, yang dikenal dengan nama hama lodoh. Bakteri terutama terdapat dalam berkas-berkas pembuluh. Garis-garis yang kebasah-basahan pada urat daun jika dipotong dan diletakkan pada tempat yang lembab akan banyak lendir bakteri yang terdapat pada garis-garis tersebut yang disebut ooze, lendir itu kemudian mengering membentuk butiran-butiran kecil pada garis-garis luka (Sinaga, 2006).

2.3.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Dalam keadaan lembab (terutama di pagi hari), kelompok bakteri, berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah temukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar. Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit hawar daun bakteri (Agrios, 1997).
Penyakit lebih banyak pada padi yang dipindah. Pada umur yang lebih muda. Ada jenis padi tertentu yang tahan pada waktu muda dan adapula yang tahan pada waktu dewasa. Misalnya bakteri kelompok III jenis Krueng Aceh tahan pada waktu muda, sedang Bah Butong, Semeru, Citanduy, dan Cisanggarung menjadi tahan setelah dewasa terhadap bakteri kelompok IV Bah Butong tahan pada waktu masih muda dan juga setelah dewasa (Khaeruni, 2001).
Faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan penyakit di lapang selain kelembaban tinggi, yaitu hujan angin, dan pemupukan N yang berlebihan dapat meningkatkan keparahan penyakit.
2.3.d. Siklus Hidup Penyakit
Penyakit hawar daun bakteri disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Bakteri ini berbentuk batang dengan koloni berwarna kuning.Patogen ini mempunyai virulensi yang bervariasi tergantung kemampuannya untuk menyerang varuetas padi yang mempunyai gen resistensi berbeda. Di Indonesia hingga saat ini telah ditemukan sekitar 12 kelompok isolat (strain) berdasarkan virulensinya terhadap varietas diferensial. Isolat kelompok VIII tersebar paling luas dan mendominasi di lapangan, sedangkan kelompok IV tidak begitu luas, tetapi mempunyai virulensi tertinggi dan umumnya semua varietas padi peka terhadap kelompok isolat ini. Perkembangan penyakit sangat tergantung pada cuaca dan ketahanan tanaman. Bakteri Xoo menginfeksi tanaman melalui hidatoda atau luka. Setelah masuk dalam jaringan tanaman bakteri memperbanyak diri dalam epithemi yang menghubungkan dengan pembuluh pengangkutan, kemudian tersebar kejaringan lainnya dan menimbulkan gejala. Penyakit dapat terjadi pada semua stadia tanaman. Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight) (www.shigen.nig.ac.jp).
Bakteri terutama mengadakan infeksi melalui luka-luka pada daun, karena biasanya bibit padi dipotong ujungnya sebelum ditanam. Bakteri juga mengadakan infeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan. Infeksi terjadi saat pertanaman atau beberapa hari sesudahnya. Bahkan sudah diketahui bahwa luka-luka pada akar dapat menarik bakteri. Bakteri juga dapat mengadakan infeksi melalui pori air yang terdapat pada daun, melalui luka-luka karena daun-daun yang bergesekan, dan melalui luka-luka karena serangan. Bakteri tidak dapat bertahan lama pada biji, sehingga umumnya penyakit ini tidak terbawa oleh biji.
Selama ini, telah dikenal terdapat 12 patotipe X. oryzae pv. oryzae, yang dapat diketahui berdasarkan reaksi timbal balik terhadap 5 varietas berbeda berdasarkan sistem Kozaka yang telah dikembangka. Setiap patotipe memiliki virulensi spesifik terhadap padi yang berbeda ketahanannya menurut konsep gen ke gen dalam interaksi inang-parasit. Setiap gen yang memberi ketahanan pada inang terdapat gen yang berhubungan dengannya pada patogen yang memberi virulensi pada patogen tersebut, dan sebaliknya (Agrios, 1997).
2.3.e. Pengendalian
- Pengendalian secara kultur teknis
Intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas dan virulensi patogen, tetapi juga dipengaruhi oleh teknik bercocok tanam yang diterapkan oleh petani. Sama halnya dengan penyakit-penyakit padi lainnya, penyakit HDB mempunyai hubungan yang jelas dengan pemupukan, khususnya pemupukan nitrogen. Pemberian pupuk N dengan dosis anjuran penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas. Sebaliknya pemupukan N dengan dosis yang tinggi akan meningkatkan kerusakan pada varietas dengan ketahanan moderat, walaupun pada varietas yang resisten dampaknya relatif kecil. Oleh karena itu, pemupukan N yang berlebihan sebaiknya dihindarkan. Selain pemupukan sesuai dosis anjuran, pergiliran varietas dan tanaman, sanitasi dan eradikasi pada tanaman yang terserang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit HDB pada suatu daerah tertentu.
- Pengendalian secara hayati
Keuntungan biokontrol antara lain lebih aman, tidak terakumulasi dalam rantai makanan, adanya proses reproduksi sehingga dapat mengurangi pemakaian yang berulang-ulang dan dapat digunakan secara bersama-sama dengan pengendalian yang telah ada.
Sebagian besar pekerjaan dibidang biokontrol masih dalam taraf percobaan dan kajian kelayakan ekonomi, seperti halnya biokontrol penyakit hawar daun bakteri masih dalam taraf pengujian di laboratorium dan rumah kaca. Hasil penelitian yang dilakukan Khaeruni, et al menunjukkan bahwa terdapat sejumlah bakteri filosfer yang diisolasi dari daun padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun bakteri pada skala rumah kaca, terdapat bakteri filosfer Pseudomonas kelompok fluorescens dan Bacillus sp yang juga diisolasi dari daun dan batang tanaman padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun pada padi secara in vitro (Khaeruni, 2001).
Penggunaan agen biokontrol dalam skala luas di lapangan memerlukan beberapa kriteria antara lain formulasi agen biokontrol mudah diaplikasi di lapangan, pembiakan massal dan bahan formulasi yang murah dan mudah didapatkan, serta agen biokontrol mampu bertahan dalam waktu yang relatif lama dalam bahan formulasinya pada suhu ruang. Hal-hal tersebut sering menjadi kendala utama dalam pemanfaatan biokontrol di lapangan, yang perlu dipikirkan jalan keluarnya.
Pengendalian penyakit HDB dengan varietas tahan sangat efektif dan mudah diterapkan. Namun teknologi ini terhambat oleh pembentukan berbagai patotipe patogen Xoo, yang pada suatu saat mampu mematahkan sifat tahan yang ada. Untuk menghadapi penyakit yang disebabkan oleh patogen yang mampu membentuk strain, seperti HDB ini, taktik pergiliran varietas tahan perlu didesign secara cermat, agar varietas tahan dapat berfungsi secara baik. Taktik ini memerlukan dukungan berbagai data terutama yang berkaitan dengan profil patotipe yang ada di suatu ekosistem dan respon genotipe padi di berbagai ekosistem sebagai gambaran interaksi antara patotipe dan genotipe padi. Mengingat sifat patogen Xoo yang sangat mudah membentuk patotipe baru maka pengendalian penyakit seperti ini seyogyanya dilakukan dengan penggunaan varietas yang memiliki ketahanan lebih dari satu gen ketahanan (polygenic resisstant). Varietas Angke dan Conde tahan terhadap bakteri X. oryzae pv. oryzea strain III, IV, dan VIII. Pengendalian secara kimiawi untuk penyakit hawar daun bakteri kurang efektif disamping itu biayanya cukup mahal (Harahap dan Cahyono, 1998).

2.4. Penyakit Busuk Batang
2.4.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit busuk batang pada kacang tanah yang disebabkan oleh cendawan nekrotropik Sclerotium rolfsii. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit penting pada kacang tanah yang seringkali menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Sclerotium rolfsii merupakan patogen yang menyerang tanaman kacang tanah dan menyebabkan penyait busuk pangkal batang yang dapat menimbulkan kerugian pada pertanaman kacang tanah.
2.4.b. Gejala

Gambar 8 Gambar 9
Batang kacang tanah yang terserang S. rolfsii Miselium dan sklerotia S. rolfsii
(www. kliniktanaman.blogspot.com)

Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak-berecak bulat berwarna putih sampai kuning atau cekelat pada pangkal batang. Selanjutnya, tanaman layu dan pangkal batang tanaman membusuk berwarna kehitaman. Dari batang yang busuk tersebut akan tumbuh banang-benang miselium cendawan berwarna putih. Umumnya serangan terbatas pada akar dan pangkal batang vanili sampai ketinggian 5 cm dari permukaan tanah. Bila tanaman yang tersertang tidak dicabut, miselium akan membentuk sklerotia berupa butiran berwarna kuning atau cokelat (Sinaga, 2006).
2.4.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Busuk batang umumnya menyerang pada musim hujan, dan kelembaban tinggi. Kondisi ini akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan patogen dengan baik. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab. Penyakit ini dapat berkembang pada daerah dengan garis lintang yang rendah (Agrios, 1997).
2.4.d. Siklus Hidup Penyakit
Sclerotium rolfsii adalah cendawan yang kosmopolit, dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan, terutama yang masih muda. Cendawan itu mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Cendawan tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan mempertahankan diri cendawan membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih kelak menjadi coklat dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali terlepas dan terangkut oleh air.
Sclerotium rolfsii mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan selama 6-7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab.
Di daerah tropis Sclerotium rolfsii tidak membentuk spora. Cendawan dapat bertahan lama dengan hidup secara saprofitik, dan dalam bentuk sklerotium yang tahan terhadap keadaan yang kurang. Sclerotium rolfsii umumnya terdapat dalam tanah. Cendawan terutama terpencar bersama-sama dengan tanah atau bahan organik pembawanya. Sclerotium rolfsii dapat terpencar karena terbawa oleh air yang mengalir. Sclerotium rolfsii terutama berkembang dalam cuaca yang lembab (www. kliniktanaman.blogspot.com).
2.4.e. Pengendalian
Pengendalian penyakit busuk batang sklerotium dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman dengan tanaman padi atau tanaman lain yang bukan merupakan inang. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase antar petak agar air pengairan dapat mengalir serta mencabut tanaman yang sakit. Selain itu, pengendalian dengan menggunakan Bio-TRIBA dengan dosis 5 – 10 ml/l air dapat digunakan untuk pengendalian secara langsung dengan menyiramkannya pada daerah sekitar perakaran (www. kliniktanaman.blogspot.com).

BAB 3
PEMBAHASAN UMUM

Beberapa penyakit pada berbagai macam tanaman yang dibahas pada makalah ini yaitu disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu penyakit busuk lunak pada tanaman kubis yang oleh bakteri Erwinia carotovora dan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh cendawan yaitu penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides dan penyakit busuk pangkal batang pada kacang tanah oleh cendawan Sclerotium rolfsii. Keempat penyakit tersebut menyebabkan tingkat keparahan yang cukup tinggi pada masing-masing tanaman inangnya. Keempat penyakit tersebut dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis dalam tingkat yang cukup tinggi, terutama pada penyakit busuk lunak dan antraknosa. Karena pada penyakit-penyakit tersebut patogen langsung menyerang buah pada tanaman inang. Hal ini dapat menyebabkan penurunan dalam produksi kubis dan cabai. Selain itu, pada penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi dan penyakit busuk batang pada kacang tanah juga dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Namun, kematian pada tanaman kacang tanah akibat penyakit busuk batang ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, karena bakteri Sclerotium rolfsii mampu bertahan pada tanaman inangnya selama 6-7 tahun.
Berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh patogen yang berbeda, menimbulkan gejala yang berbeda-beda pula. Gejala-gejala tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Penyakit Gejala
Busuk lunak Terdapat bercak kebasahan pada daun yang menyebar ke seluruh tubuh hingga buah, berwarna cokelat tua kehitaman. Buah yang terserang menjadi busuk, rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Infeksi bakteri sekunder mengakibatkan tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas.
Antraknosa Pada buah ditandai dengan adanya bercak/bintik-bintik coklat kemerahan atau coklat hitam pada permukaan kulit buah yang diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Pada bagian tengah busuk terdapat titik‐titik kecil yang merupakan massa konidium. Buah kemudian akan mengering dan akhirnya mati.
Hawar daun bakteri Daun-daun yang sakit akan berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaian daun itu sepanjang ibu tulangnya. Warna daun yang kering akan berubah menjadi kening jerami sampai coklat muda dan akhirnya tanaman akan mati.
Busuk pangkal batang Ditandai dengan adanya bercak-bercak bulat berwarna putih sampai kuning atau cekelat pada pangkal batang. Selanjutnya, tanaman layu dan pangkal batang tanaman membusuk berwarna kehitaman. Dari batang yang busuk tersebut akan tumbuh banang-benang miselium cendawan berwarna putih.

Penyakit-penyakit ini perlu ditanggulangu dengan melakukan tindakan pengendalian agar tidak menimbulkan kerugian. Tindakan pengendalian yang dilakukan pada masing-masing penyakit berbeda-beda. Pada tanaman kubis yang terkena penyakit busuk lunak akibat serangan patogen Erwinia carotovora akan efektif dilakukan pengendalian dengan cara pengendalian secara preventif yang bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya atau dengan menjaga kebersihan kebun dari sisa –sisa tanaman yang sakit. Menjaga kelembaban tidak terlalu tinggi dengan cara menanam tanaman kubis dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat. Selain itu dapat juga dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non-sayur dan sistem drainase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Pada tanaman cabai yang terserang penyakit antraknosa dapat dilakukan tindakan pengendalian yang tidak jauh berbeda dengan tindakan pengendalian pada tanaman kubis yang sakit, namun pada penyakit antraknosa ini pengendalian dengan memanfaatkan agen hayati cukup membantu dalam proses pengendalian patogen.
Tindakan pengendalian paling efektif pada penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan. Namun teknologi ini terhambat oleh pembentukan berbagai patotipe patogen Xoo, yang pada suatu saat mampu mematahkan sifat tahan yang ada. Untuk menghadapi penyakit yang disebabkan oleh patogen yang mampu membentuk strain, seperti HDB ini, taktik pergiliran varietas tahan perlu didesign secara cermat, agar varietas tahan dapat berfungsi secara baik. Selain menggunakan varietas tahan, tindakan pengendalian yang dapat dilakuakan yaitu dengan menggunakan agen biokontrol. Pada tanaman kacang tanah yang terserang penyakit busuk batang dapat dilakukan tindakan pengendalian dengan cara rotasi tanaman dengan tanaman padi atau tanaman lain yang bukan merupakan inang. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase antar petak agar air pengairan dapat mengalir serta mencabut tanaman yang sakit.
Jika diperlukan, tindakan pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan insektisida atau fungisida dapat dilakukan pada keempat jenis penyakit ini. Namun, penggunaan insektisida atau fungisida ini perlu dilakukan dalam dosis yang teratur dan dalam jangka waktu yang sesuai dengan prosedur.

BAB 4
KESIMPULAN

Penyakit busuk lunak pada tanaman kubis, antraknosa pada tanaman cabai, hawar daun bakteri pada tanaman padi, dan busuk lunak pada tanaman kacang tanah merupakan penyakit penting utama yang dapat menimbulkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi pada masing-masing tanaman. Hal ini berkaitan dengan gejala yang berbeda-beda yang ditimbulkan oleh masing-masing patogen.
Setiap serangan patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman inangnya dapat dikendalikan dengan berbagai cara. Tindakan pengendalian tersebut dapat dilakukan baik secara hayati, mekanik, maupun dengan bahan bahan kimia sintetik. Pengendalian secara hayati merupakan cara yang peling efektif dalam mengendalikan serangan patogen.

Daftar Pustaka

Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic Press.

Harahap, I.S. dan Cahyono, B. 1998. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Bogor: Penebar Swadaya.
.
http://web.ipb.ac.id [5 Juni 2010]

http://www. kliniktanaman.blogspot.com [5 Juni 2010]

http://www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm [5 Juni 2010]

http://www.shigen.nig.ac.jp [5 Juni 2010]

http://www. tanindo.com [5 Juni 2010]

Khaeruni, Andi. 2001. Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi : Masalah dan Upaya Pemecahannya. Bogor: IPB.

Sinaga, Meity Suradji. 2006. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Comments are closed.