Nama : Elsa Dwi Juliana Tanggal Praktikum : 30 Maret 2010
NRP : A34080016 Bahan Tanaman : Cabang Acalypha sp.
Mayor : Proteksi Tanaman Asisten : 1. Vitria Melani (G34050386)
Kelompok : 5 (Lima) 2. Risa S. W. (G34062569)

Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Laju Transpirasi

Tujuan Praktikum:
Mempelajari pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap laju transpirasi, yaitu jumlah daun, sirkulasi udara, cahaya, dan jumlah stomata.

Pendahuluan:
Transpirasi dapat dikatakan proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu melalui pori – pori daun yakni melalui stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman. Selain itu juga transpirasi terjadi melalui luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui kutikula hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata, sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi (Salisbury&Ross.1992).
Dalam proses ini, ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan xylem yang merupakan kolom berkelanjutan dari akar ke daun. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari akar ke daun melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut. Proses penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh itu, pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan selama akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi, air akan terus dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman (Lakitan, 2007).
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Salisbury&Ross.1992) dan faktor luar antara lain kelembaban, angin, suhu, cahaya, dan kandungan air tanah, jumlah daun, dan jumlah stomata. Besar bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan ini daya hantar stomata berbanding dengan resistensi stomata ( Cambpell, 2003 ).

Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan Jumlah Air yang Ditranspirasikan
Perlakuan Air yang ditranspirasikan (ml/detik)
1 2 Rata-rata
Laboratorium 0,2 0,55 1,25.10-3
Kipas angin 1 0,9 3,17. 10-3
Cahaya 0,6 1 2,67.10-3
Kipas angin dan cahaya 1 0,8 3,00.10-3
½ jumlah daun 1 1 3,33. 10-3

Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data bahwa laju transpirasi pada tanaman yang diberi perlakuan dengan kipas angin menunjukkan nilai yang lebih besar daripada perlakuan laboratorium (kontrol). Terjadi kesalahan pada perlakuan ini, karena nilai laju transpirasi pada perlakuan kipas angin seharusnya lebih rendah daripada tanaman kontrol. Karena Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembaban udara diatas stomata, yang akan mengakibatkan tanaman kehilangan neto air dalam jumlah yang lebih tinggi. Namun jika angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
Pada perlakuan selanjutnya, yaitu perlakuan dengan cahaya lampu, menunjukkan data bahwa nilai laju transpirasi tanaman dengan perlakuan cahaya lampu lebih tinggi dari kontrol namun lebih rendah dari perlakuan dengan menggunakan kipas angin. Hal ini juga terjadi kesalahan karena laju respirasi tanaman dengan perlakuan cahaya lebih tinggi daripada tanaman dengan perlakuan kipas angin. Hal ini terjadi kerena ketika ada cahaya, daun yang dikenai cahaya tersebut langsung akan mengabsorbsi energi radiasi melalui stomata maka stomata akan membuka sebagai respon dari meningkatnya pencahayaan. sehelai daun yang dikenai cahaya matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi. Hanya sebagian kecil energi tersebut yang digunakan dalam fotosintesis, selebihnya diubah menjadi energi panas. Sebagian dari energi panas tersebut dilepaskan ke lingkungan, dan selebihnya meningkatkan suhu daun lebih tinggi daripada suhu udara disekitarnya. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat dan barangkali bukaan stomata pun terpengaruh.
Tanaman dengan perlakuan kipas angin dan cahaya menunjukkan nilai laju transpirasi yang cukup tinggi (lebih tinggi dari perlakuan dengan kipas angin dan lebih rendah dari perlakuan dengan cahaya lampu). Hal ini terjadi karena ketika tanaman diberi cahaya lampu, maka suhu daun akan meningkatkan dan membuat udara lebih lembab yang mengakibatkan transpirasi meningkat. Namun di sisi lain, perlakuan dengan kipas angin yang menyebabkan angin menyapu daun akan mengakibatkan suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
Pada perlakuan terakhir, yaitu perlakuan dengan hanya menyisakan setengah daun dari jumlah daun awal pada tanaman, menunjukkan nilai laju transpirasi yang paling tinggi diantara perlakuan yang lainnya. Dalam hal ini juga terjadi kesalahan. Seharusnya nilai laju transpirasi yang dihasilkan cukup kecil (lebih kecil dari kontrol), karena uap air berdifusi melalui stomata, sehingga dengan pemotongan ½ daun akan mempengaruhi jumlah stomata yang akibatnya laju transpirasi semakin lambat, seperti yang diungkapkan oleh Salisbury dan Ross ( 1992 ) yang menyatakan bahwa stomata terletak dimana epidermis memungkinkan terjadinya pertukaran gas antara mesofil dan udara luar. Kebanyakan air yang hilang secara uap air dari suatu daun dari dinding epidemis karena dalam yang besar dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata dan hilang ke udara melalui stomata.
Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada beberapa percobaan yang telah dilakukan dapat terjadi karena beebrapa hal, seperti adanya faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi laju transpirasi, dan waktu yang digunakan kurang tepat. Seperti pada perlakuan cahaya, laju transpirasi yang diperoleh tidak begitu tinggi karena pada ruangan praktikum terdapat kipas angin yang dinyalakan, baik yang berada di ruangan, maupun yang digunakan oleh kelompok lain, sehingga dapat mempengaruhi laju transpirasi tanaman yang sedang diujicobakan Hal sebaliknya terjadi pada percobaan dengan perlakuan kipas angin, dimana tanaman yang diujicobakan mendapatkan efek cahaya lampu dari kelompok lain yang sedang melakukan percobaan dengan perlakuan cahaya lampu.

Kesimpulan
Laju transpirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang masing-masing faktor memiliki pengaruh yang berbeda-beda. Pada faktor cahaya, dapat mengakibatkan laju transpirasi meningkat. Sedangkan faktor angin menyebabkan laju transpirasi mengalami penurunan. Adanya perlakuan dengan mengurangi jumlah daun pada tanaman yang diujikan, mengakibatkan laju transpirasi yang dihasilkan lebih rendah.

Daftar Pustaka
Cambpell, N. A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Salisbury dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press.

Jawaban Pertanyaan
1. Jika yang digunakan pada percobaan ini adalah batang berakar, maka laju transpirasi akan semakin tinggi. Karena dengan adanya rambut-rambut akar, penyerapan air akan semakin cepat. Hal ini sesuai dengan fungsi akar yaitu untuk menyerap air, sehingga laju transpirasi yang dilakukan oleh tanaman pun akan lebih tinggi.
2. Ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan xylem yang merupakan kolom berkelanjutan menuju daun, sehingga air pada photometer akan bergerak menuju cabang tanaman. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari ke seluruh tubuh tumbuhan melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut.
3. Pengaruh tiap faktor lingkungan, yaitu:
- Daun yang dikenai cahaya akan mengabsorbsi energi radiasi melalui stomata maka stomata akan membuka sebagai respon dari meningkatnya pencahayaan yang berakibat suhu daun meningkat. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, sehingga transpirasi meningkat.
- Angin yang menyapu uap air hasil transpirasi akan menurunkan kelembaban udara diatas stomata, sehingga tanaman kehilangan neto air dalam jumlah yang lebih tinggi. Jika angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
- Pemotongan ½ daun akan mempengaruhi jumlah stomata, sehingga laju akan menurun.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

POSTULAT KOCH

Oleh :
Elysa Fitri ( A34080001)

Dosen:
Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti
Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pada dasarnya, tidak ada satupun tumbuhan di alam ini yang bebas dari gangguan penyakit. Gejala penyakit pada tumbuhan dapat berupa bercak, hawar (seperti tersiram air panas), gosong, mengeriting, bengkak, bahkan beberapa penyakit dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan, misalnya busuk akar, busuk pangkal batang, rebah kecambah, dan layu.
Diagnosis penyakit tumbuhan ada yang mudah, karena gejalanya khas, tetapi lebih banyak yang sulit ditentukan penyebabnya karena gejalanya banyak yang mirip satu sama lain. Apalagi penyebabnya kebanyakan adalah adanya organisme yang sukar dilihat dengan mata telanjang.
Hampir semua tanaman pertanian di Indonesia terkena penyakit yang disebabkan oleh patogen, baik itu tanaman pangan seperti padi yang diserang oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. ataupun tanaman hortikultura seperti kacang tanah yang diserang oleh cendawan Sclerotium rolfsii yang menyebabkan penyakit busuk batang, kubis-kubisan oleh bakteri Erwinia carotovora, cabai oleh cendawan Colletotrichum sp, dan lain-lain.
Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman telah dirasakan oleh bangsa Indonesia, terlebih oleh para petani. Dapat dibuktikan dari menurunnya produktivitas pangan dan tanaman hortikultura di Indonesia. Hal ini tentu saja tidak dapat dibiarkan. Dibutuhkan suatu tindakan pengendalian yang efektif yang dapat menjadi solusi bagi perbaikan dan perkembangan pertanian Indonesia.

1.2 Tujuan
Dalam pembuatan disease note book ini terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, tujuan tersebut yaitu untuk mengetahui penyakit-penyakit yang menyerang berbagai tanaman, baik itu tanaman pangan seperti pada maupun tanaman hortikultura seperti kubis, cabai, dan kacang tanah. Selain itu pembuatan disease note book ini juga bertujuan untuk mengetahui patogen yang menyebabkan penyakit pada berbagai jenis tanaman, mengetahui gejala dari berbagai penyakit pada tanaman, memahami siklus penyakit dari patogen penyebab penyakit pada tanaman, dan agar mahasiswa mengetahui teknik pengendalian yang tepat untuk mencegah terjadinya atau berkembangnya penyakit-penyakit pada tanaman.

BAB 2
ISI

2.1. Penyakit Busuk Lunak
2.1.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis-kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis.
Bakteri busuk lunak merupakan parasit lemah yang dapat melakukan penetrasi pada inangnya hanya melalui luka misalnya pada bercak yang diinfeksi oleh patogen lainnya, luka karena gigitan serangga, atau luka karena alat pertanian yang digunakan untuk memanen kubis. Infeksi bakteri lebih banyak dijumpai pada tempat penyimpanan atau pada waktu pengangkutan (pasca panen) dari pada di lapangan.
2.1.b. Gejala

Gambar 1 Gambar 2
Kubis yang terserang E. carotovora Erwinia carotovora
(www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm)

Kubis yang terkena penyakit busuk basah menunjukkan gejala – gejala, yaitu pada daun terdapat bercak kebasahan yang bentuknya tidak teratur. Bercak tersebut kemudian melebar, melekuk, dan menyebar ke seluruh buah, berwarna cokelat tua kehitaman. Buah yang terserang menjadi rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Selama masa panen, pembusukan biasanya dimulai pada batang dan diikuti oleh buah. Jika kelembaban lingkungan tinggi, bercak tampak basah dan ada butir – butir cairan. Infeksi bakteri sekunder mengakibatkan tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas. Bau tersebut merupakan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi karbohidrat kubis (www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm).
2.1.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Suhu optimal untuk perkembangan bakteri 27°C. Pada kondisi suhu rendah dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya. Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 – 37°C dengan suhu optimum berkisar 22°C (Agrios, 1997).
2.1.d. Siklus Hidup Penyakit
Sel bakteri berbentuk batang, dengan ukuran (1,5 – 2,0) x (0,6 ¬0,9) mikron, umumnya membentuk rangkaian sel-sel seperti rantai, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri (flagela peritrichous). Bakteri bersifat Gram negatif.
Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri (Sinaga, 2006).
Penyebaran melalui tanah, sisa-sisa tanaman di lapangan dan alat pertanian. Bakteri tersebar di lapangan oleh percikan air atau kontak dengan alat-alat seperti cangkul atau pisau. Jika pisau tercemar digunakan untuk memanen kubis, tanaman yang disimpan juga membusuk dengan cepat (Agrios, 1997).
Bakteri busuk lunak mempunyai daerah sebaran yang luas hampir di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Tanaman inang bakteri busuk lunak diantaranya kentang, wortel, seledri, tomat, selada, kailan, caisin, kubis bunga, petsai, sawi hijau, bawang merah, bawang bombai, bawang daun, bawang putih, semangka, tembakau dan ubi-ubian.
2.1.e. Pengendalian
Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya atau dengan menjaga kebersihan kebun dari sisa –sisa tanaman yang sakit. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Menjaga kelembaban tidak terlalu tinggi dengan cara menanam tanaman kubis dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, hasil panen dicuci dengan air yang mengandung klorin atau borax 7,5%, dan disimpan di gudang yang mempunyai ventilasi cukup. Dapat juga dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non-sayur. Selain itu system drainase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Jika memungkinkan sebisa mungkin menghindari mencuci buah dengan air sembarang sebelum disterilisai dengan klorin. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan (www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm).

2.2. Penyakit Antraknosa
2.2.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit antraknosa ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides, dengan bentuk sempurnanya adalah Glomerella cingulata. Antarknosa pada cabai besar tersebar disemua daerah, penanaman cabai diseluruh dunia, meskipun dibanyak negara penyakit ini dianggap sebagai dua penyakit, yang masing – masing disebabkan oleh satu jamur.

2.2.b. Gejala

Gambar 3
Cabai terkena penyakit antraknosa (www. tanindo.com)

Gambar 4 Gambar 5
Aservulus dan seta pada C. gloeosporioides Colletotrichum gloeosporioides
(http://web.ipb.ac.id)

Gejala serangan penyakit antraknosa pada buah ditandai dengan adanya bercak/bintik-bintik coklat kemerahan atau coklat hitam berbentuk bulat pada permukaan kulit buah seperti terkena sengatan matahari yang diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Pada bagian tengah busuk terdapat titik‐titik kecil yang merupakan massa konidium yang terdiri atas aservuli, konidium, konidiofor dan seta dan lama-lama menjadi cekung, mengeras dan kering.
Jika buah yang masih muda terinfeksi, maka akan lebih cepat gugur. Infeksi lebih cepat berkembang pada buah yang tua, dan berlanjut ke pascapanen. Penyakit ini tidak hanya terjadi di lapangan, terkadang terjadi adang di kebun, namun tidak terlalu banyak. Tapi begitu sudah dipanen dan disimpan, serangan penyakit semakin banyak (www. tanindo.com).
Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman (Agrios, 1997).
Cendawan ini dapat juga menyerang batang atau ranting. Gejala awal yang terjadi yaitu ujung tunas menjadi coklat, bagian nekrotik hitam berkembang ke pangkal dan menyebabkan mati ujung. Pada cuaca lembab, timbul bintik-bintik hitam (terdiri dari aservulus) pada ranting. Pada tanaman besar patogen ini dapat mengakibatkan ranting mati dan bercak pada buah. Gejala mati ujung ranting dimulai dari daun-daun pada cabang atau ranting berwarna kuning, kemudian mati dan gugur. Kadang kala pada batas antara bagian jaringan sakit dan sehat keluar blendok (www. tanindo.com).
2.2.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Cuaca lembab dan panas merupakan kondisi lingkungan yang mendukung terjadinya infeksi pada buah. Cendawan penyebab penyakit antraknosa ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32oC. Cendawan ini menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan (Agrios, 1997).
Faktor yang sangat mempengaruhi mati ranting atau ujung adalah lemahnya jaringan tanaman karena kondisi tanaman kurang baik, yang dapat disebabkan oleh perawatan yang kurang baik, misalnya tanah yang kurus terutama defisiensi fosfor, kekurangan air, dan adanya lapisan cadas atau adanya gangguan organisme lain. .
2.2.d. Siklus Hidup Penyakit
Daur hidup._ Jamur pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah – buah. Jamur hanya sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa – sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Aservulus dangkal, seta bersekat 1–2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing (Sinaga, 2006).
Umumnya, spora cendawan patek disebarkan oleh angin. Bisa juga melalui peralatan pertanian, bahkan manusia. Cendawan dapat menginfeksi biji dan bertahan dalam sisa-sisa tanaman sakit.
Tanaman inang lain lain yang diserang oleh cendawan ini diantaranya yaitu bawang-bawangan, jambu mete, srikaya, sirsak, teh, pepaya, tapak dara, beras tumpah (Dieffenbachia saguine), bisbul, kesemek, Dracaena sp (ornamental), kelapa sawit, lokuat, kastuba, manggis, karat, pacar banyu, leci, kweni, pala, apokat, jambu biji, delima, kakao, dan anggrek Vanda (www. tanindo.com).
2.2.e. Pengendalian
Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. Penyiangan/sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat. Tidak menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa/patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi. Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan atau dengan penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati. Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium amorphospongarium, Athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut.
Jika diperlukan penyakit dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida yang efektif sesuai dengan anjuran. Penyiraman fungisida tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. Bermacam – macam fungisida dapat dipakai untuk keperluan ini, antara lain Antracol (propineb), Velimek (maneb dan zineb), Delsene MX-200 (karbendazim dan mankozeb), Benlate dan Manzate (benomyl dan maneb), Dithane M-45 (mankozeb), Dithane Z-78 (Zineb), dan Fungisida tembaga (www. tanindo.com).

2.3. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)
2.3.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar hampir diseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada musim hujan biasanya berkembang lebih baik. Kerugian hasil yang disebabkan oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat keparahan 20% sebulan sebelum panen, penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di atas keparahan itu, hasil padi turun 4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar 10%. Kerusakan terberat terjadi apabila penyakit menyerang tanaman muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek, dapat menyebabkan tanaman mati (Khaeruni, 2001).

2.3.b. Gejala

Gambar 6
Penyakit hawar daun bakteri pada padi
(www.shigen.nig.ac.jp)

Gambar 7
Xanthomonas oryzae pv. Oryzae
(www.shigen.nig.ac.jp)

Gejala awal ditandai dengan bercak memanjang dengan tepi bergelombang dari ujung daun yang berkembang sepanjang tepi daun. Gejala kemudian berkembang menjadi hawar, layu (kresek), dan warna daun berubah menjadi kuning pucat Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight). Gejala diawali dengan bercak kelabu (water soaked) umumnya di bagian pinggir daun. Pada varietas yang rentan bercak berkembang terus, dan akhirnya membentuk hawar. Pada keadaan yang parah, pertanaman terlihat kering seperti terbakar (www.shigen.nig.ac.jp).
Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur <30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh).
Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan. Penyakit ini akan menimbulkan gejala yang timbul 1-2 minggu setelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun yang sakit akan berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaian daun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna kuning. Warna daun yang kering tiu akan berubah menjadi kening jerami sampai coklat muda. Gejala dapat juga meluas sampai upih daun (Khaeruni, 2001).
Gejala lain adalah kresek, dimana gejala ini terjadi pada tanaman padi berumur 2-6 minggu. Gejala penyakit ini mudah dibedakan dari gejala karena serangan penggerek, karena pada serangan penggerek gejala lebih dulu timbul pada daun yang lebih muda, sedang pada hawar daun bakteri serangan akan tampak pada daun yang lebih tua. Mungkin bakteri hanya menyerang beberapa daun, tetapi dapat juga berkembang terus sehingga tanaman mati. Tingkatan terakhir dari penyakit ini adalah membusuknya tanaman, yang dikenal dengan nama hama lodoh. Bakteri terutama terdapat dalam berkas-berkas pembuluh. Garis-garis yang kebasah-basahan pada urat daun jika dipotong dan diletakkan pada tempat yang lembab akan banyak lendir bakteri yang terdapat pada garis-garis tersebut yang disebut ooze, lendir itu kemudian mengering membentuk butiran-butiran kecil pada garis-garis luka (Sinaga, 2006).

2.3.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Dalam keadaan lembab (terutama di pagi hari), kelompok bakteri, berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah temukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar. Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit hawar daun bakteri (Agrios, 1997).
Penyakit lebih banyak pada padi yang dipindah. Pada umur yang lebih muda. Ada jenis padi tertentu yang tahan pada waktu muda dan adapula yang tahan pada waktu dewasa. Misalnya bakteri kelompok III jenis Krueng Aceh tahan pada waktu muda, sedang Bah Butong, Semeru, Citanduy, dan Cisanggarung menjadi tahan setelah dewasa terhadap bakteri kelompok IV Bah Butong tahan pada waktu masih muda dan juga setelah dewasa (Khaeruni, 2001).
Faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan penyakit di lapang selain kelembaban tinggi, yaitu hujan angin, dan pemupukan N yang berlebihan dapat meningkatkan keparahan penyakit.
2.3.d. Siklus Hidup Penyakit
Penyakit hawar daun bakteri disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Bakteri ini berbentuk batang dengan koloni berwarna kuning.Patogen ini mempunyai virulensi yang bervariasi tergantung kemampuannya untuk menyerang varuetas padi yang mempunyai gen resistensi berbeda. Di Indonesia hingga saat ini telah ditemukan sekitar 12 kelompok isolat (strain) berdasarkan virulensinya terhadap varietas diferensial. Isolat kelompok VIII tersebar paling luas dan mendominasi di lapangan, sedangkan kelompok IV tidak begitu luas, tetapi mempunyai virulensi tertinggi dan umumnya semua varietas padi peka terhadap kelompok isolat ini. Perkembangan penyakit sangat tergantung pada cuaca dan ketahanan tanaman. Bakteri Xoo menginfeksi tanaman melalui hidatoda atau luka. Setelah masuk dalam jaringan tanaman bakteri memperbanyak diri dalam epithemi yang menghubungkan dengan pembuluh pengangkutan, kemudian tersebar kejaringan lainnya dan menimbulkan gejala. Penyakit dapat terjadi pada semua stadia tanaman. Namun yang paling umum ialah terjadi pada saat tanaman mulai mencapai anakan maksimum sampai fase berbunga. Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedang pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight) (www.shigen.nig.ac.jp).
Bakteri terutama mengadakan infeksi melalui luka-luka pada daun, karena biasanya bibit padi dipotong ujungnya sebelum ditanam. Bakteri juga mengadakan infeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan. Infeksi terjadi saat pertanaman atau beberapa hari sesudahnya. Bahkan sudah diketahui bahwa luka-luka pada akar dapat menarik bakteri. Bakteri juga dapat mengadakan infeksi melalui pori air yang terdapat pada daun, melalui luka-luka karena daun-daun yang bergesekan, dan melalui luka-luka karena serangan. Bakteri tidak dapat bertahan lama pada biji, sehingga umumnya penyakit ini tidak terbawa oleh biji.
Selama ini, telah dikenal terdapat 12 patotipe X. oryzae pv. oryzae, yang dapat diketahui berdasarkan reaksi timbal balik terhadap 5 varietas berbeda berdasarkan sistem Kozaka yang telah dikembangka. Setiap patotipe memiliki virulensi spesifik terhadap padi yang berbeda ketahanannya menurut konsep gen ke gen dalam interaksi inang-parasit. Setiap gen yang memberi ketahanan pada inang terdapat gen yang berhubungan dengannya pada patogen yang memberi virulensi pada patogen tersebut, dan sebaliknya (Agrios, 1997).
2.3.e. Pengendalian
- Pengendalian secara kultur teknis
Intensitas serangan HDB tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas dan virulensi patogen, tetapi juga dipengaruhi oleh teknik bercocok tanam yang diterapkan oleh petani. Sama halnya dengan penyakit-penyakit padi lainnya, penyakit HDB mempunyai hubungan yang jelas dengan pemupukan, khususnya pemupukan nitrogen. Pemberian pupuk N dengan dosis anjuran penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas. Sebaliknya pemupukan N dengan dosis yang tinggi akan meningkatkan kerusakan pada varietas dengan ketahanan moderat, walaupun pada varietas yang resisten dampaknya relatif kecil. Oleh karena itu, pemupukan N yang berlebihan sebaiknya dihindarkan. Selain pemupukan sesuai dosis anjuran, pergiliran varietas dan tanaman, sanitasi dan eradikasi pada tanaman yang terserang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit HDB pada suatu daerah tertentu.
- Pengendalian secara hayati
Keuntungan biokontrol antara lain lebih aman, tidak terakumulasi dalam rantai makanan, adanya proses reproduksi sehingga dapat mengurangi pemakaian yang berulang-ulang dan dapat digunakan secara bersama-sama dengan pengendalian yang telah ada.
Sebagian besar pekerjaan dibidang biokontrol masih dalam taraf percobaan dan kajian kelayakan ekonomi, seperti halnya biokontrol penyakit hawar daun bakteri masih dalam taraf pengujian di laboratorium dan rumah kaca. Hasil penelitian yang dilakukan Khaeruni, et al menunjukkan bahwa terdapat sejumlah bakteri filosfer yang diisolasi dari daun padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun bakteri pada skala rumah kaca, terdapat bakteri filosfer Pseudomonas kelompok fluorescens dan Bacillus sp yang juga diisolasi dari daun dan batang tanaman padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun pada padi secara in vitro (Khaeruni, 2001).
Penggunaan agen biokontrol dalam skala luas di lapangan memerlukan beberapa kriteria antara lain formulasi agen biokontrol mudah diaplikasi di lapangan, pembiakan massal dan bahan formulasi yang murah dan mudah didapatkan, serta agen biokontrol mampu bertahan dalam waktu yang relatif lama dalam bahan formulasinya pada suhu ruang. Hal-hal tersebut sering menjadi kendala utama dalam pemanfaatan biokontrol di lapangan, yang perlu dipikirkan jalan keluarnya.
Pengendalian penyakit HDB dengan varietas tahan sangat efektif dan mudah diterapkan. Namun teknologi ini terhambat oleh pembentukan berbagai patotipe patogen Xoo, yang pada suatu saat mampu mematahkan sifat tahan yang ada. Untuk menghadapi penyakit yang disebabkan oleh patogen yang mampu membentuk strain, seperti HDB ini, taktik pergiliran varietas tahan perlu didesign secara cermat, agar varietas tahan dapat berfungsi secara baik. Taktik ini memerlukan dukungan berbagai data terutama yang berkaitan dengan profil patotipe yang ada di suatu ekosistem dan respon genotipe padi di berbagai ekosistem sebagai gambaran interaksi antara patotipe dan genotipe padi. Mengingat sifat patogen Xoo yang sangat mudah membentuk patotipe baru maka pengendalian penyakit seperti ini seyogyanya dilakukan dengan penggunaan varietas yang memiliki ketahanan lebih dari satu gen ketahanan (polygenic resisstant). Varietas Angke dan Conde tahan terhadap bakteri X. oryzae pv. oryzea strain III, IV, dan VIII. Pengendalian secara kimiawi untuk penyakit hawar daun bakteri kurang efektif disamping itu biayanya cukup mahal (Harahap dan Cahyono, 1998).

2.4. Penyakit Busuk Batang
2.4.a. Nama dan Penyebab Penyakit
Penyakit busuk batang pada kacang tanah yang disebabkan oleh cendawan nekrotropik Sclerotium rolfsii. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit penting pada kacang tanah yang seringkali menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Sclerotium rolfsii merupakan patogen yang menyerang tanaman kacang tanah dan menyebabkan penyait busuk pangkal batang yang dapat menimbulkan kerugian pada pertanaman kacang tanah.
2.4.b. Gejala

Gambar 8 Gambar 9
Batang kacang tanah yang terserang S. rolfsii Miselium dan sklerotia S. rolfsii
(www. kliniktanaman.blogspot.com)

Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak-berecak bulat berwarna putih sampai kuning atau cekelat pada pangkal batang. Selanjutnya, tanaman layu dan pangkal batang tanaman membusuk berwarna kehitaman. Dari batang yang busuk tersebut akan tumbuh banang-benang miselium cendawan berwarna putih. Umumnya serangan terbatas pada akar dan pangkal batang vanili sampai ketinggian 5 cm dari permukaan tanah. Bila tanaman yang tersertang tidak dicabut, miselium akan membentuk sklerotia berupa butiran berwarna kuning atau cokelat (Sinaga, 2006).
2.4.c. Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Busuk batang umumnya menyerang pada musim hujan, dan kelembaban tinggi. Kondisi ini akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan patogen dengan baik. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab. Penyakit ini dapat berkembang pada daerah dengan garis lintang yang rendah (Agrios, 1997).
2.4.d. Siklus Hidup Penyakit
Sclerotium rolfsii adalah cendawan yang kosmopolit, dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan, terutama yang masih muda. Cendawan itu mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Cendawan tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan mempertahankan diri cendawan membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih kelak menjadi coklat dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali terlepas dan terangkut oleh air.
Sclerotium rolfsii mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan selama 6-7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab.
Di daerah tropis Sclerotium rolfsii tidak membentuk spora. Cendawan dapat bertahan lama dengan hidup secara saprofitik, dan dalam bentuk sklerotium yang tahan terhadap keadaan yang kurang. Sclerotium rolfsii umumnya terdapat dalam tanah. Cendawan terutama terpencar bersama-sama dengan tanah atau bahan organik pembawanya. Sclerotium rolfsii dapat terpencar karena terbawa oleh air yang mengalir. Sclerotium rolfsii terutama berkembang dalam cuaca yang lembab (www. kliniktanaman.blogspot.com).
2.4.e. Pengendalian
Pengendalian penyakit busuk batang sklerotium dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman dengan tanaman padi atau tanaman lain yang bukan merupakan inang. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase antar petak agar air pengairan dapat mengalir serta mencabut tanaman yang sakit. Selain itu, pengendalian dengan menggunakan Bio-TRIBA dengan dosis 5 – 10 ml/l air dapat digunakan untuk pengendalian secara langsung dengan menyiramkannya pada daerah sekitar perakaran (www. kliniktanaman.blogspot.com).

BAB 3
PEMBAHASAN UMUM

Beberapa penyakit pada berbagai macam tanaman yang dibahas pada makalah ini yaitu disebabkan oleh bakteri dan cendawan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu penyakit busuk lunak pada tanaman kubis yang oleh bakteri Erwinia carotovora dan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh cendawan yaitu penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides dan penyakit busuk pangkal batang pada kacang tanah oleh cendawan Sclerotium rolfsii. Keempat penyakit tersebut menyebabkan tingkat keparahan yang cukup tinggi pada masing-masing tanaman inangnya. Keempat penyakit tersebut dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis dalam tingkat yang cukup tinggi, terutama pada penyakit busuk lunak dan antraknosa. Karena pada penyakit-penyakit tersebut patogen langsung menyerang buah pada tanaman inang. Hal ini dapat menyebabkan penurunan dalam produksi kubis dan cabai. Selain itu, pada penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi dan penyakit busuk batang pada kacang tanah juga dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Namun, kematian pada tanaman kacang tanah akibat penyakit busuk batang ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, karena bakteri Sclerotium rolfsii mampu bertahan pada tanaman inangnya selama 6-7 tahun.
Berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh patogen yang berbeda, menimbulkan gejala yang berbeda-beda pula. Gejala-gejala tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Penyakit Gejala
Busuk lunak Terdapat bercak kebasahan pada daun yang menyebar ke seluruh tubuh hingga buah, berwarna cokelat tua kehitaman. Buah yang terserang menjadi busuk, rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Infeksi bakteri sekunder mengakibatkan tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas.
Antraknosa Pada buah ditandai dengan adanya bercak/bintik-bintik coklat kemerahan atau coklat hitam pada permukaan kulit buah yang diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Pada bagian tengah busuk terdapat titik‐titik kecil yang merupakan massa konidium. Buah kemudian akan mengering dan akhirnya mati.
Hawar daun bakteri Daun-daun yang sakit akan berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaian daun itu sepanjang ibu tulangnya. Warna daun yang kering akan berubah menjadi kening jerami sampai coklat muda dan akhirnya tanaman akan mati.
Busuk pangkal batang Ditandai dengan adanya bercak-bercak bulat berwarna putih sampai kuning atau cekelat pada pangkal batang. Selanjutnya, tanaman layu dan pangkal batang tanaman membusuk berwarna kehitaman. Dari batang yang busuk tersebut akan tumbuh banang-benang miselium cendawan berwarna putih.

Penyakit-penyakit ini perlu ditanggulangu dengan melakukan tindakan pengendalian agar tidak menimbulkan kerugian. Tindakan pengendalian yang dilakukan pada masing-masing penyakit berbeda-beda. Pada tanaman kubis yang terkena penyakit busuk lunak akibat serangan patogen Erwinia carotovora akan efektif dilakukan pengendalian dengan cara pengendalian secara preventif yang bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya atau dengan menjaga kebersihan kebun dari sisa –sisa tanaman yang sakit. Menjaga kelembaban tidak terlalu tinggi dengan cara menanam tanaman kubis dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat. Selain itu dapat juga dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non-sayur dan sistem drainase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Pada tanaman cabai yang terserang penyakit antraknosa dapat dilakukan tindakan pengendalian yang tidak jauh berbeda dengan tindakan pengendalian pada tanaman kubis yang sakit, namun pada penyakit antraknosa ini pengendalian dengan memanfaatkan agen hayati cukup membantu dalam proses pengendalian patogen.
Tindakan pengendalian paling efektif pada penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan. Namun teknologi ini terhambat oleh pembentukan berbagai patotipe patogen Xoo, yang pada suatu saat mampu mematahkan sifat tahan yang ada. Untuk menghadapi penyakit yang disebabkan oleh patogen yang mampu membentuk strain, seperti HDB ini, taktik pergiliran varietas tahan perlu didesign secara cermat, agar varietas tahan dapat berfungsi secara baik. Selain menggunakan varietas tahan, tindakan pengendalian yang dapat dilakuakan yaitu dengan menggunakan agen biokontrol. Pada tanaman kacang tanah yang terserang penyakit busuk batang dapat dilakukan tindakan pengendalian dengan cara rotasi tanaman dengan tanaman padi atau tanaman lain yang bukan merupakan inang. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase antar petak agar air pengairan dapat mengalir serta mencabut tanaman yang sakit.
Jika diperlukan, tindakan pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan insektisida atau fungisida dapat dilakukan pada keempat jenis penyakit ini. Namun, penggunaan insektisida atau fungisida ini perlu dilakukan dalam dosis yang teratur dan dalam jangka waktu yang sesuai dengan prosedur.

BAB 4
KESIMPULAN

Penyakit busuk lunak pada tanaman kubis, antraknosa pada tanaman cabai, hawar daun bakteri pada tanaman padi, dan busuk lunak pada tanaman kacang tanah merupakan penyakit penting utama yang dapat menimbulkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi pada masing-masing tanaman. Hal ini berkaitan dengan gejala yang berbeda-beda yang ditimbulkan oleh masing-masing patogen.
Setiap serangan patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman inangnya dapat dikendalikan dengan berbagai cara. Tindakan pengendalian tersebut dapat dilakukan baik secara hayati, mekanik, maupun dengan bahan bahan kimia sintetik. Pengendalian secara hayati merupakan cara yang peling efektif dalam mengendalikan serangan patogen.

Daftar Pustaka

Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic Press.

Harahap, I.S. dan Cahyono, B. 1998. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Bogor: Penebar Swadaya.
.
http://web.ipb.ac.id [5 Juni 2010]

http://www. kliniktanaman.blogspot.com [5 Juni 2010]

http://www.magma.ca/~pavel/science/Erwinia.htm [5 Juni 2010]

http://www.shigen.nig.ac.jp [5 Juni 2010]

http://www. tanindo.com [5 Juni 2010]

Khaeruni, Andi. 2001. Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi : Masalah dan Upaya Pemecahannya. Bogor: IPB.

Sinaga, Meity Suradji. 2006. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
PEMELIHARAAN SERANGGA
Spodoptera litura dan Riptortus linearis

Oleh :
1. Elsa Dwi Juliana ( A34080016 )
2. Lestari Pebriyeni ( A34080017 )
3. Yudia Nurhaelena ( A34080035 )
4. Sylvia Hakikah ( A34080042 )
5. Venni Anggaraini ( A34080043 )

Dosen:
Idham S.Harahap

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Produktivitas pangan yang tinggi dapat diperoleh ketika tanaman berada dalam kondisi yang baik, baik itu dari segi tanah maupun faktor lainnya. Namun yang menjadi masalah saat itu yaitu jarang ditemukan tanaman yang benar-benar bebas dari serangan hama, baik yang disebabkan oleh serangan serangga, cendawan, bakteri, maupun virus. Masalah ini jika tidak segera ditanggulangi maka akan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi pertanian Indonesia.
Beberapa contoh tanaman yang sering terserang hama yaitu pada tanaman kacang polong dan tanaman kubis. Hama yang sering menyerang tanaman kacang polong dan menyebabkan kerusakan pada tanaman tersebut yaitu Riptortus linearis. Kehilangan hasil akibat serangan hama pengisap polong ini dapat mencapai 79%. Selain tanaman kacang polong, tanaman kubis pun tidak terlepas dari serangan hama. Hama yang sering menyerang tanaman kubis yaitu Spodoptera litura. Kerugian yang ditimbulkan akibat hama ini pun cukup besar.
Maka, untuk memperbaiki kondisi pertanian tersebut, diperlukan suatu teknik pengendalian hama yang tepat. Sebelum dilakukan pengendalian, perlu diketahui daur hidup dan morfologinya agar dapat diambil keputusan yang paling tepat dalam usaha pengendaliannya. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeliharaan serangga hama tersebut selama silkus hidupnya, mulai dari stadia awal hingga imago dengan mengamati kerusakan yang ditimbulkan pada inang yang diberikan, dan bahkan hingga dapat bertelur kembali.
Oleh karena itu dilakukan pemeliharaan pada Riptortus linearis dan Spodoptera litura mulai dari telur hingga menghasilkan telur kembali selama kurang lebih 1 bulan untuk dilakukan pengamatan terhadap siklus hidupnya.

1.2 Tujuan
Dalam melaksakan pengamatan ini, terdapat tujuan yang ingin dicapai, yaitu:
- Mengetahui siklus hidup Riptortus linearis dan Spodoptera litura
- Mengetahui perbedaan bentuk morfologi yang ditunjukkan oleh Riptortus linearis dan Spodoptera litura pada masing-masing stadia.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum pemeliharaan serangga Riptortus linearis dan Spodoptera litura ini menggunakan alat 5 buah cawan petri, 5 buah wadah plastik berkaca, gunting, kuas kecil dan termohigrometer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah telur dari Riptortus linearis sebagai serangga paurometabola, larva Spodoptera litura sebagai serangga holometabola, kacang panjang (makanan Riptortus linearis ), daun kangkung atau talas (makanan Spodoptera litura), kertas saring untuk alas, dan kertas label.

2.2 Metode
Untuk mengawali pengamatan, imago kedua serangga harus dipelihara sampai menghasilkan telur. Imago Riptortus linearis siperoleh dari lapang, dan diperkirakan sudah kopulasi sehingga tinggal ditunggu hingga telur diletakkan. Imago Spodoptera litura perlu dikawinkan antara jantan dan betina karena serangga dipelihara dari pupa di laboratorium. Setelah serangga bertelur, masing-masing telur dipindahkan ke dalam cawan petri yang dialasi kertas lembab. Telur diamati hingga menetas dan stadium telur dihitung. Suhu dan kelembaban saat pengamatan dicatat setiap hari pada waktu yang sama. Cawan petri disiapkan dengan cara member alas dengan kertas saring dan dilembabkan dengan sedikit air. Kacang panjang 4-5 cm dimasukkan ke dalam cawan petri, salah satu ujung kacang panjang diberi kapas basah. Kedalam cawan petri yang lain dimasukkan satu lembar daun kangkung atau sepotong daunt alas. Nimfa atau larva yang baru keluar dari telur dimasukkan ke dalam cawan petri dengan menggunakan kuas kecil. Setiap cawan petri diisi dengan satu individu. Perkembangan serangga diamati setiap hari, dan dihitung jumlah ganti kulit (jumlah instar) dan dihitung pula stadium setiap instar. Pengamatan ganti kulit pada instar-instar awal dilakukan dibawah mikroskop karena instar awal relative masih kecil. Makanan dan kertas alas diganti setiap hari sekali atau bila makanan sudah habis atau kering. Untuk Spodoptera litura menjelang berpupa larva dipindahkan ke wadah plastic yang telah diberi media untuk berpupa ( serbuk gergaji atau tanah kering). Dihitung mas berpupanya. Setelah serangga mulai berpupa dihitung stadium pupanya, setelah keluar menjadi imago, media dibuang, imago diberi madu yang diserapkan ke bulatan kapas. Setelah serangga menjadi imago diamati masa praoviposisi Riptortus linearis dan Spodoptera litura dan dihitung siklus hidupnya.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Perkembangan Riptortus linearis
Fase Perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata Perkembangan (hari) Rata-rata Suhu Rata-rata Kelembaban
1 2 3 4 5
Telur 6 6 6 6 6 6 34,82oC 79,6 %
Nimfa 16 15 16 15 16 16
Imago 3 2 3 2 3 3
Siklus Hidup - - - - - -

Tabel 2. Perkembangan Spodoptera litura
Fase Perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata Perkembangan (hari) Rata-rata Suhu Rata-rata Kelembaban
1 2 3 4 5
Larva 14 16 14 16 14 15 34,82oC 79,6 %
Pupa 8 7 8 7 8 9
Imago 3 2 3 2 3 3
Siklus Hidup - - - - - -

Pembahasan
Pengamatan Riptortus linearis dan Spodoptera litura dimulai dari stadium telur yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Dari setiap larva yang diamati menunjukkan perubahannya masing-masing.
Berdasarkan hasil pengamatan pada kelima ulangan nimfa Riptortus linearis, menunjukkan bahwa stadium telur terjadi selama 6 hari. Selanjutnya telur menetas pada hari ke 7 dan memasuki stadium instar 1 yang ditandai dengan munculnya nimfa yang berukuran kecil, berwarna cokelat muda seperti semut. Stadium instar 1 berlangsung selama 3 hari. Pada hari ke delapan, nimfa berganti kulit. Pergantian kulit tersebut menunjukkan bahwa nimfa memasuki stadium instar 2 yang dicirikan dengan ukuran tubuh sekitar 4 mm, adanya antena dan pergerakannya bertambah cepat. Stadium instar 2 ini berlangsung selama 3 hari. Kemudian, pada hari berikutnya, nimfa kembali berganti kulit untuk memasuki stasium instar 3 dengan ciri-ciri ukuran bertambah menjadi sekitar 6 mm, antenabertambah panjang, abdomen membesar. Pada stadium ini, nimfa pada ulangan ke dua dan ke empat mengalami instar 3 selama 4 hari, berbeda dengan instar 1, 3, dan 5 yang hanya stadium instar 3 nya selama 3 hari. Hal ini terjadi karena pada hari ke 15, nimfa pada ulangan dua dan empat mati, sehingga nimfa tersebut diganti dengan nimfa yang berumur sekitar 13 hari. Pada hari ke 17, nimfa memasuki stadium instar 4 kecuali ulangan ke dua dan ke empat yang baru memasuki stadium instar 4 pada hari ke 18. Perubahan instar ini ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi cokelat tua, antena yang bertambah panjang, dan ukuran tubuh yang bertambah besar sekitar 7 mm. Hari berikutnya, ulangan ke satu, tiga, dan lima memasuki stadium instar 5, sedangkan ulangan ke dua dan empat memasuki instar 5 pada hari ke 21. Stadium instar 5 berlangsung selama 3 hari dan merupakan stadium terakhir pergantian kulit sebelum nimfa menjadi imago. Ciri-ciri yang dapat dilihat pada stadium instar 5 ini yaitu munculnya bakal saya, warna kulit yang semakin gelap, dan ukuran tubuh mencapai 9,90 mm. Setelah mengalami lima kali proses pergantian kulit, nimfa memasuki fase imago. Pada fase ini Riptortus linearis telah menjadi serangga sempurna kerena telah memiliki sayap. Ciri-ciri lain yang terlihat yaitu adanya perubahan warna menjadi berwarna cokelat muda kekuningan dengan ukuran abdomen sekitar 13-14 mm (Tengkano, W. dan M. Dunuyaali. 1976). Pada fase imago ini, Riptortus linearis sudah mampu untuk bertelur. Namun, pengamatan Riptortus linearis hingga meletakkan tidak dapat dilakukan kerena pada hari ke 2 (ulangan dua dan empat) dan hari ke 3 (ulangan satu, tiga, dan lima) setelah memasuki fase imago, Riptortus linearis mati. Sehingga siklus hidup Spodoptera litura tidak dapat diamati. Hal ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan makanan yang terbatas, dan kelembaban yang terlalu tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan pada kelima ulangan pada larva Spodoptera litura, menunjukkan bahwa perkembangan larva pada Spodoptera litura berlangsung selama 14-16 hari. Masa larva ini dimulai dari stadia instar 1 hingga stadia instar 5. Stadia instar 1 berlangsung selama 3 hari, instar 2 selama 4 hari, instar 3 selama 3 hari, instar 4 selama 2-3 hari, dan instar 5 selama 2-3 hari. Setelah masa larva dilalui, selanjutnya Spodoptera litura memasuki fase pupa dengan tipe pupa obtekta. Fase ini berlangsung selama 7-8 hari. Dan fase terakhir pada Spodoptera litura yaitu fase imago. Imago pada Spodoptera litura ini termasuk kedalam kelompok ngengat (Family: Hesperiidae).

Pada masa larva Spodoptera litura (instar 1 hingga instar 5) menunjukkan bentuk morfologi yang berbeda-beda. Pada instar pertama tubuh larva berwarna hijau kuning, panjang 2,00 sampai 2,74 mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,2-0,3 mm. Instar kedua, tubuh berwarna hijau dengan panjang 3,75-10,00 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi dan pada ruas abdomen pertama terdapat garis hitam meningkat pada bagian dorsal terdapat garis putih memanjang dari toraks hingga ujung abdomen, pada toraks terdapat empat buah titik yang berbaris dua-dua (www.biologi.ugm.ac.id/index.php). Larva instar ketiga memiliki panjang tubuh 8,0 – 15,0 mm dengan lebar kepala 0,5 – 0,6 mm. Pada bagian kiri dan kanan abdomen terdapat garis zig-zag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang tubuh. Instar keempat dan kelima agak sulit dibedakan. Untuk panjang tubuh instar ke empat 13-20 mm, instar kelima 25-35 mm. Mulai instar keempat warna bervariasi yaitu cokelat muda dengan bintik kecil berwarna hitam (www.puslittan.bogor.net/berkas_PDF).
Pengamatan Spodoptera litura hingga meletakkan tidak dapat dilakukan kerena pada hari ke 3 setelah memasuki fase imago, Spodoptera litura mati. Sehingga siklus hidup Spodoptera litura tidak dapat diamati. Hal ini disebabkan media tempat pertumbuhan imago Spodoptera litura terlalu banyak dan karena kondisi kelembaban yang terlalu tinggi mengakibatkan media tersebut ditumbuhi cendawan. Selain itu juga kerena ketersediaan makanan yang terbatas.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum ini, dapat diketahui bahwa siklus hidup Riptortus linearis terdiri dari 3 fase, yaitu telur, nimfa (instar 1, instar 2, instar 3.instar 4, instar 5) , dan imago. Jangka waktu yang dibutuhkan oleh Riptortus linearis untuk menjadi imago yaitu 23 hari. Sedangkan siklus hidup Spodoptera litura terdiri dari 4 fase, yaitu telur, larfa (instar 1, instar 2, instar 3.instar 4, dan instar 5), pupa, dan imago. Waktu yang dibutuhkan bagi Spodoptera litura untuk timbuh menjadi imago yaitu 22 hari. Masing-masing perubahasan fase pada Riptortus linearis dan Spodoptera litura menunjukkan bentuk morfologi yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA

Tengkano, W. dan M. Dunuyaali. 1976. Biologi dan pengaruh tiga macam umur polong kedelai terhadap produksi telur Riptortus linearis F. Laporan Kemajuan Penelitian Seri Hama/Penyakit (4): 19−34.

www.puslittan.bogor.net/berkas_PDF

www.biologi.ugm.ac.id/index.php

LAMPIRAN

Tabel Pengamatan Suhu dan Kelembaban pada Spodoptera litura dan Riptortus litura
No. Hari & tgl Pengamatan Jam Pengamatan Suhu ( )
Kelembaban (%) Nama Pencatat
1 Kamis, 18-02-2010 14.00 26,5
80% Elsa
2 Jumat, 19-02-2010 16.00 28,8
81% Yudia
3 Sabtu, 20-20-2010 11.15 26,5
80% Sylvi
4 Minggu, 21-02-2010 11,15 26,7
80% Venni
5 Senin, 22-02-2010 11.30 27,6
82% Tari
6 Selasa, 23-02-2010 13.00 28,8
82% Yudia
7 Rabu, 24-02-2010 14.15 27,0
80% Tari
8 Kamis, 25-02-2010 16.00 27,6
81% Elsa
9 Jumat, 26-02-2010 15.00 28,0
80% Venni
10 Sabtu, 27-02-2010 11.15 26,5
79% Sylvi
11 Minggu, 28-02-2010 11.15 27,6
79% Tari
12 Senin, 01-03-2010 15.00 28,0
80% Yudia
13 Selasa, 02-03-2010 16.00 28,3
73% Venni
14 Rabu, 03-03-2010 16.00 28,6
73% Sylvi
15 Kamis, 04-03-2010 16.00 28.0
76% Elsa
16 Jumat, 05-03-2010 11.15 27,3
80% Venni
17 Sabtu, 06-03-2010 11.25 26,5
80% Yudia
18 Minggu, 07-03-2010 11.00 27,0
80% Sylvi
19 Senin, 08-03-2010 15.00 28.6
81% Elsa
20 Selasa, 09-03-2010 11.15 27,8
80% Tari
21 Rabu, 10-03-2010 16.00 27,7
81% Yudia
22 Kamis, 11-03-2010 16.00 27,4
82% Sylvi
23 Jumat, 12-03-2010 10.25 27,4
79% Elsa
24 Sabtu, 13-03-2010 11.15 27,9
79% Tari
25 Minggu, 14-03-2010 11.20 28,3
80% Venni
26 Senin, 15-03-2010 16.00 81% Elsa
27 Selasa, 16-03-2010 16.00 27,9
80% Yudia
28 Rabu, 17-03-2010 12.15 27,6
79% Sylvi
29 Kamis, 18-03-2010 16.00 27,0
80% Tari
30 Jumat, 19-03-2010 15.05 28,0
80% Venni
31 Sabtu, 20-03-2010 11.20 28,6
80% Sylvi
32 Minggu, 21-03-2010 11.15 27,9
80% Tari
33 Senin, 22-03-2010 15.20 27,6
79% Elsa
34 Selasa, 23-03-2010 16.00 27,0
79,6% Yudia
35 Rabu, 24-03-2010 12.10 27,9
79% Venni
36 Kamis, 25-03-2010 16.00 27,9
80% Tari

Tabel Pengamatan Perkembangan Riptortus linearis
No. Hari & tgl pengamatan Stadia ( ulangan )
1 2 3 4 5
1 Kamis, 18-02-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
2 Jumat, 19-02-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
3 Sabtu, 20-20-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
4 Minggu, 21-02-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
5 Senin, 22-02-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
6 Selasa, 23-02-2010 Telur Telur Telur Telur Telur
7 Rabu, 24-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
8 Kamis, 25-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
9 Jumat, 26-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
10 Sabtu, 27-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
11 Minggu, 28-02-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
12 Senin, 01-03-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
13 Selasa, 02-03-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
14 Rabu, 03-03-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
15 Kamis, 04-03-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
16 Jumat, 05-03-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
17 Sabtu, 06-03-2010 Instar 4 Instar 3 Instar 4 Instar 3 Instar 4
18 Minggu, 07-03-2010 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4
19 Senin, 08-03-2010 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4
20 Selasa, 09-03-2010 Instar 5 Instar 4 Instar 5 Instar 4 Instar 5
21 Rabu, 10-03-2010 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5
22 Kamis, 11-03-2010 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5
23 Jumat, 12-03-2010 Imago Instar 5 Imago Instar 5 Imago
24 Sabtu, 13-03-2010 Imago Imago Imago Imago Imago
25 Minggu, 14-03-2010 Imago Imago Imago Imago Imago
26 Senin, 15-03-2010 Mati Mati Mati Mati Mati
27 Selasa, 16-03-2010 Mati Mati Mati Mati Mati
28 Rabu, 17-03-2010 Mati Mati Mati Mati Mati

Tabel Pengamatan Perkembangan Spodoptera litura
No. Hari & tgl pengamatan Stadia ( ulangan )
1 2 3 4 5
1 Kamis, 18-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
2 Jumat, 19-02-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
3 Sabtu, 20-20-2010 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1 Instar 1
4 Minggu, 21-02-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
5 Senin, 22-02-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
6 Selasa, 23-02-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
7 Rabu, 24-02-2010 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2 Instar 2
8 Kamis, 25-02-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
9 Jumat, 26-02-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
10 Sabtu, 27-02-2010 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3 Instar 3
11 Minggu, 28-02-2010 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4
12 Senin, 01-03-2010 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4 Instar 4
13 Selasa, 02-03-2010 Instar 5 Instar 4 Instar 5 Instar 4 Instar 5
14 Rabu, 03-03-2010 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5 Instar 5
15 Kamis, 04-03-2010 Pupa Instar 5 Pupa Instar 5 Pupa
16 Jumat, 05-03-2010 Pupa Instar 5 Pupa Instar 5 Pupa
17 Sabtu, 06-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
18 Minggu, 07-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
19 Senin, 08-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
20 Selasa, 09-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
21 Rabu, 10-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
22 Kamis, 11-03-2010 Pupa Pupa Pupa Pupa Pupa
23 Jumat, 12-03-2010 Ngengat Pupa Ngengat Pupa Ngengat
24 Sabtu, 13-03-2010 Ngengat Ngengat Ngengat Ngengat Ngengat
25 Minggu, 14-03-2010 Ngengat Ngengat Ngengat Ngengat Ngengat
26 Senin, 15-03-2010 Mati Ngengat Mati Ngengat Mati
27 Selasa, 16-03-2010 Mati Mati Mati Mati Mati
28 Rabu, 17-03-2010 Mati Mati Mati Mati Mati